BURANGA,Matabuton.com-Di balik senyumnya yang ramah, Sadaria menyimpan tekad besar untuk memastikan ketahanan pangan di Kabupaten Buton Utara tetap terjaga.
Sejak dilantik sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan, ia sadar bahwa tugasnya bukan sekadar menjalankan program, tetapi juga berinovasi dan berjuang agar kebutuhan pangan masyarakat Butur dapat terpenuhi.
Dalam kondisi anggaran daerah yang terbatas, Sadaria tidak tinggal diam. Ia menantang dirinya sendiri untuk menarik anggaran dari luar, meyakinkan berbagai pihak agar mau membantu Buton Utara.
Salah satu bukti nyata usahanya adalah keberhasilannya mendatangkan bantuan pangan dari Provinsi Sulawesi Tenggara untuk korban banjir pada Juli 2024. Tidak hanya itu, ia juga menggandeng Bank Indonesia untuk menggelar Gerakan Pangan Murah di Kecamatan Kulisusu Utara, baru-baru ini.
“Kami tetap mencari peluang-peluang agar Dinas Ketahanan Pangan ini bisa eksis seperti dinas-dinas yang lain. Karena anggaran daerah kita minim, kita harus berusaha dari luar,” ujarnya dalam sebuah wawancara di ruang kerjanya pada 7 Maret 2025.
Langkah-langkah Sadaria bukan tanpa tantangan. Tahun lalu, cadangan pangan daerah hanya 3 ton, jumlah yang sangat minim untuk menghadapi bencana yang melanda wilayah seperti Kambowa dan Kulisusu Barat. Melihat kondisi ini, ia bergerak cepat ke tingkat provinsi, dan usahanya pun membuahkan hasil.
“Alhamdulillah, disahuti,” ungkapnya penuh syukur.
Namun, perjuangan tak berhenti di situ. Sadaria juga berupaya mengatasi masalah kerawanan pangan, meskipun tahun ini belum mendapat alokasi.
“Tapi saya sudah dijanji, insya Allah kalau masih ada lagi, tahun depan kita dapat,” katanya penuh optimisme.
Upaya tak kenal lelah itu membuahkan hasil. Tahun 2024, ia berhasil mendatangkan bantuan pangan 4,1 ton untuk Buton Utara. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi warga yang terdampar bencana banjir khususnya warga Desa Morindono, Lahumoko, Bubu dan Baluara. Baginya, ini bukan sekadar angka, tetapi wujud nyata dari kerja keras dan komitmen untuk masyarakat.
Tak hanya fokus pada pengadaan bantuan, Sadaria juga melakukan terobosan dalam regulasi. Sebelumnya, cadangan pangan daerah tidak bisa dimanfaatkan karena aturan yang ketat, hanya boleh digunakan saat bencana.
Namun, setelah berkoordinasi dengan Inspektorat, aturan itu diperluas agar pangan juga bisa didistribusikan untuk daerah rawan pangan.
Langkah-langkahnya menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar tentang stok beras di gudang, tetapi tentang bagaimana memastikan setiap warga bisa mengakses pangan dengan layak.
Dengan semangat pantang menyerah, Sadaria terus membuka peluang, menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, dan membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
Di tangan seorang pemimpin seperti Sadaria, ketahanan pangan Buton Utara bukan lagi sekadar program di atas kertas, tetapi perjuangan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Laporan: Redaksi.