Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana, UHO Gelar Simulasi Tanggap Darurat di SMAN 8 Konsel

Jurusan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar kegiatan peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui simulasi penanggulangan bencana gempa bumi di SMAN 8 Konawe Selatan (Konsel).

KONSEL, Matabuton.com-Jurusan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar kegiatan peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui simulasi penanggulangan bencana gempa bumi di SMAN 8 Konawe Selatan (Konsel).

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut berlangsung di Aula SMAN 8 Konsel, Rabu (24/9/2026). Kegiatan ini diikuti para siswa dengan materi yang menitikberatkan pada kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi.

Ketua Jurusan Geografi Fakultas MIPA UHO sekaligus Ketua Literasi Spasial, Dr Sawaludin menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut.

Dalam pemaparannya, Sawaludin menekankan pentingnya literasi spasial sebagai langkah awal dalam mengantisipasi risiko bencana gempa bumi.

Menurutnya, gempa bumi tidak dapat dicegah, tetapi risikonya dapat dipetakan sehingga masyarakat dapat mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi.

“Dan peta adalah bahasa untuk membaca risiko itu,” tegas Sawaludin.

Dia menjelaskan terdapat lima alasan penting mengapa literasi spasial perlu dikuasai masyarakat, khususnya para siswa di Konawe Selatan.

Pertama, peta membantu masyarakat mengetahui kondisi dan posisi wilayah tempat mereka berada. Dengan memahami peta geologi dan peta sesar aktif, masyarakat dapat mengetahui potensi risiko di lingkungan sekitar.

“Dengan peta geologi dan peta sesar aktif dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, red), kita bisa tahu. Apakah SMAN 8 Konsel dekat dengan Sesar Lawanopo yang membelah Sultra? Apakah tanah sekolah termasuk tanah lunak (rawa timbunan) yang akan memperkuat guncangan?” ujarnya.

“Orang yang buta peta akan kaget saat gempa. Orang yang melek peta sudah waspada sebelum gempa,” lanjutnya.

Kedua, kata Sawaludin, peta menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul saat terjadi bencana.

Dia mengatakan ketika gempa terjadi, kepanikan dapat membuat seseorang sulit berpikir dan menentukan arah. Karena itu, jalur evakuasi harus diketahui dan diingat sebelum bencana terjadi.

“Ketika gempa 10 detik terjadi misalnya, otak panik tidak bisa berpikir, maka yang menyelamatkan adalah hafalan ruang,” katanya.

Literasi spasial, lanjut dia, dapat melatih siswa mengetahui pintu keluar terdekat, jalur yang relatif aman dari reruntuhan, serta titik kumpul yang jauh dari bangunan, tiang listrik, dan sungai.

“Ini yang dilatih dalam simulasi kemarin. Tanpa peta evakuasi, evakuasi berubah jadi rebutan dan korban bisa terinjak-injak,” jelasnya.

Ketiga, peta juga berfungsi untuk mengantisipasi risiko bencana ikutan atau multi-risiko. Sawaludin mengatakan gempa dapat memicu bencana lain seperti longsor maupun banjir di wilayah tertentu.

“Di Konawe Selatan diprediksi gempa jarang berdiri sendiri, bahkan bisa memicu longsor di daerah perbukitan. Kemungkinan banjir bandang. Jika tanggul sungai jebol, maka bisa saja terjadi likuifaksi di area persawahan basah,” katanya.

Menurutnya, pemetaan dengan menggabungkan sejumlah informasi kebencanaan dapat membantu mengidentifikasi wilayah yang memiliki risiko ganda.

“Dengan peta overlay (tumpang susun, red) antara peta gempa, peta banjir, peta longsor dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah, red), kita bisa melihat desa mana yang punya risiko ganda. Ini yang disebut pemetaan sosial rawan bencana,” ujarnya.

Keempat, Sawaludin menyebut peta dapat menjadi alat komunikasi ketika kondisi darurat. Saat listrik dan jaringan komunikasi terganggu akibat bencana, peta manual dapat membantu masyarakat maupun tim penyelamat memahami kondisi wilayah.

Murid yang memiliki literasi spasial, kata dia, juga dapat membantu menunjukkan lokasi korban kepada tim SAR menggunakan koordinat.

“Selanjutnya, membuat peta pengungsian darurat dengan Avenza Maps di HP meski offline. Kemudian mendata rumah warga yang rusak dengan titik GPS akurat untuk bantuan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, red),” katanya.

Kelima, literasi spasial dinilai dapat membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap risiko bencana di lingkungan masing-masing.

Sawaludin berharap para siswa yang mengikuti simulasi tersebut dapat menjadi penghubung informasi kebencanaan di lingkungan keluarga dan tempat tinggal mereka.

“Minimal di rumah dan lingkungan tetangganya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *