KENDARI, Matabuton.com-Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) menggelar Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) VIII di Kampus Unsultra, Minggu (12/7/2026). Kegiatan ini menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk mengenal organisasi sekaligus memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai Trisakti Bung Karno di tengah tantangan era Society 5.0.
Mengusung tema “Aktualisasi Trisakti Bung Karno di Sulawesi Tenggara dalam Menghadapi Tantangan Zaman Society 5.0”, PPAB diikuti calon anggota baru sebagai bagian dari proses kaderisasi awal GMNI.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang rekrutmen anggota, tetapi juga bertujuan memperluas basis kader serta memperkenalkan peran, fungsi, tugas, dan tanggung jawab GMNI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki kesadaran sebagai generasi muda yang bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua DPK GMNI Unsultra, Muhamad Al Amin B, mengatakan PPAB merupakan langkah awal dalam mencetak kader yang kelak menjadi penerus estafet kepemimpinan organisasi.
Menurutnya, tema yang diusung tidak sekadar menjadi slogan, tetapi menjadi instrumen awal dalam memberikan pemahaman ideologis kepada mahasiswa, khususnya peserta PPAB VIII GMNI Unsultra.
“Kami sangat mengapresiasi semangat para peserta. Di tengah era disrupsi, globalisasi, dan modernisasi, mereka masih memiliki semangat untuk berpartisipasi dalam organisasi, khususnya GMNI. Ini menjadi tantangan bagi kita untuk terus menjadikan nasionalisme dan marhaenisme sebagai spirit persatuan dan kesatuan demi menjaga marwah perjuangan GMNI,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPC GMNI Kota Kendari, Aji Dermawan, menegaskan organisasi merupakan ruang belajar dan tempat berproses bagi setiap kader.
Menurutnya, kualitas seseorang di masa depan ditentukan oleh keseriusan, ketekunan, konsistensi, dan komitmen selama menjalani proses di dalam organisasi.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun basis ideologi marhaenisme hingga ke akar rumput. Menurutnya, hal tersebut harus diiringi dengan kesadaran moral setiap anggota, terlebih di tengah derasnya arus globalisasi yang memengaruhi minat mahasiswa untuk berorganisasi.
“Ideologi menjadi perekat organisasi sekaligus membangun jiwa militansi dalam memperjuangkan keadilan dan melawan segala bentuk penindasan. Karena itu, berproseslah dengan sungguh-sungguh dan tetap percaya bahwa setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya,” tutupnya.















































































