BURANGA, Matabuton.com- Seluas 117 hektare areal persawahan di Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara, terdampak kekeringan akibat musim kemarau. Pemerintah Kabupaten Buton Utara pun mengerahkan mobil tangki untuk menyuplai air ke lahan pertanian warga.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga tanaman pangan sekaligus mencegah petani mengalami gagal panen akibat kekurangan air.
Dalam rilis Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Buton Utara, Sabtu (8/8/2026), Bupati Butur Afirudin Mathara turun langsung meninjau persawahan terdampak di Desa Soloy Agung, Kecamatan Kulisusu Barat.
Penanganan kekeringan tersebut dilakukan Pemkab Butur bersama Satgas Kekeringan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari.
Bupati didampingi Kepala Dinas PUPR Butur La Ode Husima bersama tim Bidang Sumber Daya Air (SDA), Pj. Kepala Desa Soloy Agung, penyuluh pertanian, serta anggota kelompok tani setempat.
Mereka turun langsung ke areal persawahan untuk melihat kondisi tanaman sekaligus menyalurkan bantuan air bagi lahan yang terdampak kekeringan.
Kepala Dinas PUPR Butur La Ode Husima melaporkan, berdasarkan pendataan sementara, total areal sawah yang terdampak kekeringan mencapai 117 hektare.
Rinciannya, 17 hektare berada di Desa Lahumoko, 50 hektare di Buranga, Desa Waode Angkalo, serta 50 hektare di Lambale, Desa Soloy Agung.
“Jumlah tangki air yang didrop akan dilakukan secara terus-menerus selama musim kemarau. Bersama dinas terkait akan terus memastikan pasokan air bagi lahan pertanian tetap terjaga sehingga tanaman padi petani terhindar dari risiko gagal panen akibat kekeringan,” kata La Ode Husima dalam rilis tersebut.
Pemkab Butur juga telah meminta bantuan BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara untuk menambah armada mobil tangki guna mempercepat distribusi air ke sejumlah areal persawahan yang terdampak.
Untuk persawahan di Desa Soloy Agung, suplai air akan memanfaatkan sumber air terdekat yang berjarak sekitar 300 meter dari pinggir sawah.
Sumber air tersebut berasal dari sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) serta saluran irigasi primer Bendungan Soloy Agung.
Selain mengantisipasi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian, Bupati Butur juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama puncak musim kemarau.
Pemkab Butur mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pada periode Agustus hingga September 2026.
Pemkab Butur menyatakan akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau.




















































































